Minggu, 13 November 2011

Guru Masa Depan

Bangsa kita, masyarakat kita, sangat membutuhkan para guru-guru yang mampu mengangkat citra dan marwah pendidikan kita yang terkesan sudah carum marut, dan seperti benang kusut. Sehingga bagaimana harus dimulai, kapan dan siapa yang memulainya, dan dari mana harus dimulai. Kalaulah kita masing-masing menyadari, dan kalaulah kita masih memiliki rasa keperdulian, dan kalaulah kita mau berbagi rasa, dan kalaulah mau kita berteposeliro, maka pendidikan kita seperti disebutkan di atas, akan dapat dianulir. Oleh sebab itu semua kita memiliki satu persepsi, satu langkah dan satu tujuan bagaimana kita berusaha mengangkat "batang terendam" tersebut, menjadi pendidikan bermutu, dan tentunya diharapkan mampu untuk mengangkat peringkat dan citra pendidikan termasuk terendah di Asia. Satu hal yang akan menjadi titik perhatian kita adalah "bagaimana merancang guru masa depan". Guru masa depan adalah guru yang memiliki kemampuan, dan ketrampilan bagaimana dapat menciptakan hasil pembelajaran secara optimal, selanjutnya memiliki kepekaan di dalam membaca tanda-tanda zaman, serta memiliki wawasan intelektual dan berpikiran maju, tidak pernah merasa puas dengan ilmu yang ada padanya. Bagaimana sebenarnya guru masa depan seperti yang diidamkan oleh banyak pihak, diantaranya adalah: Planner, artinya guru memiliki program kerja pribadi yang jelas, program kerja tersebut tidak hanya berupa program rutin, misalnya menyiapkan seperangkat dokumen pembelajaran seperti Program Semester, Satuan Pelajaran, LKS, dan sebagainya. Akan tetapi guru harus merencanakan bagaimana setiap pembelajaran yang dilakukan berhasil maksimal, dan tentunya apa dan bagaimana rencana yang dilakukan, dan sudah terprogram secara baik; Inovator, artinya memiliki kemauan untuk melakukan pembaharuan dan pembaharuan dimaksud berkenaan dengan pola pembelajaran, termasuk di dalamnya metode mengajar, media pembelajaran, system dan alat evaluasi, serta nurturant effect lainnya. Secara individu maupun bersama-sama mampu untuk merubah pola lama, yang selama ini tidak memberikan hasil maksimal, dengan merubah kepada pola baru pembelajaran, maka akan berdampak kepada hasil yang lebih maksimal; Motivator, artinya guru masa depan mampu memiliki motivasi untuk terus belajar dan belajar, dan tentunya juga akan memberikan motivasi kepada anak didik untuk belajar dan terus belajar sebagaimana dicontohkan oleh gurunya; Capable personal, maksudnya guru diharapkan memiliki pengetahuan, kecakapan dan ketrampilan serta sikap yang lebih mantap dan memadai sehinga mampu mengola proses pembelajaran secara efektif; Developer, artinya guru mau untuk terus mengembangkan diri, dan tentunya mau pula menularkan kemampuan dan keterampilan kepada anak didiknya dan untuk semua orang. Guru masa depan haus akan menimba ketrampilan, dan bersikap peka terhadap perkembangan IPTEKS, misalnya mampu dan terampil mendayagunakan computer, internet, dan berbagai model pembelajaran multi media. Jadi, guru masa depan adalah guru bertindak sebagai fasilitator; pelindung; pembimbing dan punya figur yang baik (disiplin, loyal, bertanggung jawab, kreatif, melayani sesuai dengan visi, misi yang diinginkan sekolah); termotivasi menyediakan pengalaman belajar bermakna untuk mengalami perubahan belajar berdasarkan keterampilan yang dimiliki siswa dengan berfokus menjadikan kelas yang konduktif secara intelektual fisik dan sosial untuk belajar; menguasai materi, kelas, dan teknologi; punya sikap berciri khas "The Habits for Highly Effective People" dan "Quantum Teaching" serta pendekatan humanis terhadap siswa; Guru menguasai komputer, bahasa, dan psikologi mengajar untuk diterapkan di kelas secara proporsional. Diberlakukan skema rewards dan penegakan disiplin yang humanis terhadap guru dan karyawan. Guru masa depan juga memiliki kemampuan untuk mengembangkan kemampuan para siswanya melalui pemahaman, keaktifan, pembelajaran sesuai kemajuan zaman dengan mengembangkan keterampilan hidup agar siswa memiliki sikap kemandirian, perilaku adaptif, koperatif, kompetitif dalam menghadapi tantangan, tuntutan kehidupan sehari-hari. Secara efektif menunjukkan motivasi, percaya diri serta mampu mandiri dan dapat bekerja sama. Selain itu guru masa depan juga dapat menumbuhkembangkan sikap, disiplin, bertanggung jawab, memiliki etika moral, dan memiliki sikap kepedulian yang tinggi, dan memupuk kemampuan otodidak anak didik, memberikan reward ataupun apresiasi terhadap siswa agar mereka bangga akan sekolahnya dan terdidik juga untuk mau menghargai orang lain baik pendapat maupun prestasinya. Kerendahan hati juga perlu dipupuk agar tidak terlalu overmotivated sehingga menjadi congkak. Diberikan pelatihan berpikir kritis dan strategi belajar dengan manajemen waktu yang sesuai serta pelatihan cara mengendalikan emosi agar IQ, EQ dan ke dewasaan sosial siswa ber imbang. Selain itu, guru masa depan juga harus memiliki keterampilan dasar pembelajaran, kualifikasi keilmuannya juga optimal, performance di dalam kelas maupun luar kelas tidak diragukan. Tentunya sebagai guru masa depan bangga dengan profesinya, dan akan tetap setia menjunjung tinggi kode etik profesinya. Oleh sebab itu, untuk menjadi guru masa depan diperlukan kualifikasi khusus, dan barangkali tidak akan terlepas dari relung hati dan sanubarinya, bahwa mereka memilih profesi guru sebagai pilihan utama dan pertama. Weternik memberikan dengan istilah rouping atau "pangilan hati nurani" Rouping inilah yang merupakan dasar bagi seseorang guru untuk menyebutkan dirinya sebagai "GURU MASA DEPAN"

Kinerja Guru

Guru adalah kondisi yang diposisikan sebagai garda terdepan dan posisi sentral di dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Berkaitan dengan itu, maka guru akan menjadi bahan pembicaraan banyak orang, dan tentunya tidak lain berkaitan dengan kinerja dan totalitas dedikasi dan loyalitas pengabdiannya. Sorotan tersebut lebih bermuara kepada ketidakmampuan guru didalam pelaksanaan proses pembelajaran, sehingga bermuara kepada menurunnya mutu pendidikan. Kalaupun sorotan itu lebih mengarah kepada sisi-sisi kelemahan pada guru, hal itu tidak sepenuhnya dibebankan kepada guru, dan mungkin ada system yang berlaku, baik sengaja ataupun tidak akan berpengaruh terhadap permasalahan tadi. Banyak hal yang perlu menjadi bahan pertimbangan kita, bagaimana kinerja guru akan berdampak kepada pendidikan bermutu. Kita melihat sisi lemah dari system pendidikan nasional kita, dengan gonta ganti kurikulum pendidikan, maka secara langsung atau tidak akan berdampak kepada guru itu sendiri. Sehingga perubahan kurikulum dapat menjadi beban psikologis bagi guru, dan mungkin juga akan dapat membuat guru frustasi akibat perubahan tersebut. Hal ini sangat dirasakan oleh guru yang memiliki kemampuan minimal, dan tidak demikian halnya guru professional. Selain itu, kinerja guru juga sangat ditentukan oleh output atau keluaran dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), sebagai institusi penghasil tenaga guru, LPTK juga memiliki tanggungjawab dalam menciptakan guru berkualitas, dan tentunya suatu ketika berdampak kepada pembentukan SDM berkualitas pula. Oleh sebab itu LPTK juga memiliki andil besar di dalam mempersiapkan guru seperti yang disebutkan diatas, berkualitas, berwawasan serta mampu membentuk SDM mandiri, cerdas, bertanggungjawab dan berkepribadian. Harapan ke depan, terbentuk sinergi baru dalam lingkungan persekolahan, dan perlu menjadi perhatian adalah terjalinnnya kinerja yang efektif dan efisien disetiap struktur yang ada dipersekolahan. Kinerja terbentuk bilamana masing-masing struktur memiliki tanggungjawab dan memahami akan tugas dan kewajiban masing-masing. Era reformasi dan desentralisasi pendidikan menyebabkan orang bebas melakukan kritik, titik lemah pendidikan akan menjadi bahan dan sasaran empuk bagi para kritikus, adakalanya kritik yang diberikan dapat menjadi sitawar sidingin di dalam memperbaiki kinerja guru. Akan tetapi tidak tertutup kemungkinan pula akan dapat membuat merah telinga guru sebagai akibat dari kritik yang diberikan, hal ini dapat memberikan dampak terhadap kinerja guru yang bersangkutan. Apapun kritik yang diberikan, apakah bernilai positif atau negative kiranya akan menjadi masukan yang sangat berarti bagi kenerja guru. Guru yang baik tidak akan pernah putus asa, dan menjadi kritikan sebagai pemicu baginya di dalam melakukan perbaikan dan pembenahan diri di masa yang akan datang. Kritik terhadap kinerja guru perlu dilakukan, tanpa itu bagaimana guru mengetahui kinerja yang sudah dilakukannya selama ini, dengan demikian akan menjadi bahan renungan bagi guru untuk perbaikan lebih lanjut. Indikator suatu bangsa sangat ditentukan oleh tingkat sumber daya manusianya, dan indicator sumber daya manusia ditentukan oleh tingkat pendidikan masyarakatnya. Semakin tinggi sumber daya manusianya, maka semakin baik tingkat pendidikannya, dan demikian pula sebaliknya. Oleh sebab itu indicator tersebut sangat ditentukan oleh kinerja guru. Bila kita amati di lapangan, bahwa guru sudah menunjukan kinerja maksimal di dalam menjalan tugas dan fungsinya sebagai pendidik, pengajar dan pelatih. Akan tetapi barangkali masih ada sebagian guru yang belum menunjukkan kinerja baik, tentunya secara akan berpengaruh terhadap kinerja guru secara makro. Ukuran kinerja guru terlihat dari rasa tanggungjawabnya menjalankan amanah, profesi yang diembannya, rasa tanggungjawab moral dipundaknya. Semua itu akan terlihat kepada kepatuhan dan loyalitasnya di dalam menjalankan tugas keguruannya di dalam kelas dan tugas kependidikannya di luar kelas. Sikap ini akan dibarengi pula dengan rasa tanggungjawabnya mempersiapkan segala perlengkapan pengajaran sebelum melaksanakan proses pembelajaran. Selain itu, guru juga sudah mempertimbangkan akan metodologi yang akan digunakan, termasuk alat media pendidikan yang akan dipakai, serta alat penilaian apa yang digunakan di dalam pelaksanaan evaluasi. Kinerja guru dari hari kehari, minggu ke minggu dan tahun ke tahun terus ditingkatkan. Guru punya komitmen untuk terus dan terus belajar, tanpa itu maka guru akan kerdil dalam ilmu pengetahuan, akan tetap tertinggal akan akselerasi zaman yang semakin tidak menentu. Apalagi pada kondisi kini kita dihadapkan pada era global, semua serba cepat, serba dinamis, dan serba kompetitif. Kinerja guru akan menjadi optimal, bilamana diintegrasikan dengan komponen persekolahan, apakah itu kepala sekolah, guru, karyawan maupun anak didik. Kinerja guru akan bermakna bila dibarengi dengan nawaitu yang bersih dan ikhlas, serta selalu menyadari akan kekurangan yang ada pada dirinya, dan berupaya untuk dapat meningkatkan atas kekurangan tersebut sebagai upaya untuk meningkatkan kearah yang lebih baik. Kinerja yang dilakukan hari ini akan lebih baik dari kinerja hari kemarin, dan tentunya kinerja masa depan lebih baik dari kinerja hari ini. Semoga. Copyright : Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan Nama & E-mail (Penulis): Isjoni Saya Dekan di FKIP Universitas Riau Tanggal: 8 Pebruari 2004 Judul Artikel: Kinerja Guru Topik: Kinerja Guru http://re-searchengines.com/isjoni12.html

Trend Kepemimpinan di Bidang Pendidikan Formal di Era Global

Apa yang ada didalam pikiran kita ketika kita pertama kali membaca akan judul artikel ini. Tentu yang pertama sekali yang menggelitik adalah seperti apakah model kepemimpinan yang sedang trend didalam bidang kependidikan, atau mungkin ada juga pertanyaan apakah memang ada trend didalam dunia kependidikan yang mungkin dikenal sebagai dunia yang sangat serius. Tapi untuk jaman yang sudah banyak perubahan ini , dimana terjadi kemajuan disana sini dan peningkatan akan tehnologi yang semakin canggih, maka mau tidak mau didalam pendidikan sendiri harus terjadi reformasi dan perubahan-perubahan didalamnya.   


Konsep kepemimpinan telah banyak di muat di berbagai media dan banyak pendapat ahli tentang teori kepemimpinan ini. Salah satu dari teori Kepemimpinan itu sendiri menurut George R Terry dikatakan suatu kepemimpinan aadalah aktivitas untuk mempengaruhi orang-orang guna mencapai tujuan organisasi (Leadership is activities for influcencing the others to obtain the organization objectivities). Kepemimpinan sangat berperan dalam pencapaian suatu tujuan dalam suatu perusahaan/lembaga atau pun organisasi. Kepemimpinan yang bertanggung jawab dapat membawa perusahaan/lembaga atau organisasi maju dan berkembang. 


Kepemimpinan itu sendiri juga sangat erat kaitannya dengan makna dari power atau kekuasaan. Sehingga haruslah di waspadai dan laksanakan dengan bijaksana akan kepemimpinannya. Karena kepemimpinan yang berhasil atau menghasilkan prospektif ditentukan oleh sang pemimpin yang menjadi top leader dari suatu perusahaan/lembaga atau organisasi itu bila dapat memaknai arti dari kekuasaan yanmg dimilikinya. Semakin berkembangnya akan pertumbuhan suatu masa/era, semakin besar pula perkembangan yang dialami dalami bidang kepemimpinan itu sendiri. Di abad 21 ini yang terkenal dengan abad millenium dimana semua telah berkembang secara pesat, maka akan semakin banyak pula tantangan dan kesulitan yang akan di hadapi oleh seorang pemimpin didalam mencapai akan tujuan dalam perusahaan/lembaga atau organisasi yang dipimpinnya.


Pada lembaga pendidikan, maka yang menjadi pemimpin itu bisa dalam bentuk jabatan kepala sekolah, dekan, rektor dan sebagainya. Istilah yang kita kenal adalah Top leader-nya. Top Leader pada lembaga pendidikan memerlukan beberapa persyaratan utama dimana harus dimiliki yang merupakan nilai lebih untuk dapat mempengaruihi, mengarahkan dan memimpin lembaga atau organisasinya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dapat dikatakan memiliki ‘power atau kekuasaan’ itu. Pemimpin yang tidak efektif tidak akan bisa mencapai tujuan lembaga atau organisasi secara baik. Banyak kita lihat CEO (Chief executive officer), kepala sekolah, rektor, dekan dan sebagainya yang kurang berhasil melaksanakan tujuan lembaga dan organisasi. Mengapa ? Karena kepemimpinan di abad 21 ini memerlukan ‘tingkat ketrampilan yang tinggi dan beberapa kompetensi baru’. 


David Whitfiled (2006:2-4), seorang pengarang buku tentang kepemimpinan di bidang Pendidikan yang ada di Era Global ini mengatakan, bahwa bila seseorang mau untuk menjadi pemimpin  yang disenangi dan di ikuti maka ia harus memiliki beberapa kompetensi sebagai berikut ini : 
1.     Kompetensi Kultural, yaitu seorang pemimpin global harus memahami bukan hanya akar budayanya sendiri, tetapi juga akan akar budaya orang lain, mengerti isu yang relevan, dan mampu bekerjasama dengan berbagai macam karakter orang dimana memiliki budaya yang berbeda dengan budaya  dirinya sendiri.
2.    Kompetensi politik , artinya seorang pemimpin global harus dapat memahami peta politik dan arah kebijakan politik dan harus dapat memahami implikasi geografis dan ekonomis dari suatu tindakan politik sehingga dibutuhkan pemahaman tentang struktur-struktur pemerintahan dan proses pengambilan kebijaksanaan lintas batas.
3.    Kompetensi internasional , artinya seorang pemimpin global harus mampu melihat dunia sebagai tempat yang penuh keragaman , komunutas yang heterogen, yang tersusun atas sistem fiskal, sosial, politik, ekonomi, dan komunikasi yang berbeda.
4.    Kompetensi Tehnologi , artinya seorang pemimpin global harus mampu memanfaatkan tehnologi informasi sebagai sarana menjalin komunikasi, berkolaborasi, dan membangun kepercayaan.


Menjadi seorang pemimpin dibidang pendidikan bukan saja hanya memerlukan gelar pendidikan seperti gelasr : S1 atau S2 dan lain sebagainya. Tetapi Seorang pemimpin di bidang pendidikan seperti seorang kepala sekolah, dekan , rektor, disamping persyaratan pendidikan itu, maka ia juga harus dapat menguasai kepemimpinan secara teoritik dan praktik, mempunyai kepribadian yang lembut, tegas, visioner, adil dan berdisiplin. Contohnya adalah : Seorang Kepala Sekolah memperhatikan kesejahteraan guru dan pegawai. Peduli kepada sekolah dan komponen-komponen sekolah lainnya. Sebagai orang nomor 1 di sekolah, seyogyanyalah kepada sekolah seorang yang mengerti manajemen, sehingga manaemen kinerjanya tertata secara baik, kepala sekolah sebagai pemimpin haruslah menerti tentang SWOT dan fungsi-fungsi manajemen seperti planning, organizating, budgeting, dan sebagainya.


Kepala sekolah sebagai pemimpin harus melakukan supervise secara terprogram untuk mengetahui apakah program sekolah telah terimplementasi secara baik atau belum. Hasil supervise bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan sebuah program. Di era global sekarang seorang kepala sekolah harus mempunyai jiwa kewirausahaan, agar bisa mencari uang untuk kemajuan sekolah, baik untuk pembangunan fisik sekolah, kesejahteraan guru maupun untuk meningkatkan mutu akademik sekolah. Mencari uang itu bisa melalui :
(1)     Wali amanah
(2)     Dana dari orang yang peduli pendidikan
(3)     Usaha bisnis seperti membuka gerai internet, kantin, hotel dsb.
(4)     Dana dari bantuan asing melalui program jitu yang diimplementasikan seperti peningkatan berbahasa asing, dst.


Berdasarkan PERME DIKNAS No. 16 tahun 2007 tentang Standar Akademik Kepala Sekolah dan Madrasah adalah bahwa Kepala Sekolah harus memiliki 5 kompetensi :
1.        Kompetensi Kepribadian
2.        Kompetensi Manajerial
3.        Kompetensi Kewirausahaan
4.        Kompetensi Supervisi
5.        Kompetensi Sosial


Kemudian diikuti oleh PERMENDIKNAS No. 16 tahun 2007 tentang Standar Akademik Guru dan Standar Kompetensi paedagogik dan pembelajaran. Untuk guru sekarang harus berstandar S1 dan untuk Dosen berstandar S2.  Sebagai seorang Kepala Sekolah harus berkualitas dalam memiliki ke 5 kompetensi seperti yang dikemukakan di atas, agar punya wibawa dalam menerapkan kekuasaan. Seorang pemimpin yang tidak berwibawa, lemah, maka tidak akan efektif dalam menjalankan tugasnya.


Wirawan (2003 : 8) didalam bukunya , mengatakan konstelasi kekuasaan seorang pemimpin dengan tingkat potensi yang kuat dapat mempengaruhi orang lain atau anak buah yang dipimpinnya. Konstelasi itu adalah :
1.    Bila pemimpin lebih professional dan berkualitas dari bawahan maka akan efektif mempengaruhi bawahannya.
2.    Jika pemimpin tidak professional dan tidak berkualitas maka tidak akan efektif mempengaruhi bawahannya.


Berdasarkan teori dan praktek Kepemimpinan yang kita telah bahas diatas, maka dapat kita simpulkan bahwa pemimpin yang professional didalam bidang kependidikan dan yang pasti dapat dijadikan trend sebagai seorang pemimpin di era global ini adalah sebagai berikut :
1.            Mempunyai pengetahuan yang luas
2.            Punya visi, misi dan program serta punya strategis jitu mencapai tujuan
3.            Manajerial handal, merupakan fungsi manajerial
4.            Berkepribadian menarik, pribadi teladan
5.            Jujur, adil, kreatif, kerja keras, berdisiplin dan positif thinking
6.            Berjiwa entrepreneurship
7.            Membangun networking relationship
Dengan proses pembelajaran dan disertai kerja keras antara para guru dan pimpinan sekolah yang ada maka bila di galangkan persatuan dan kesatuan bersama untuk dapat menguasai semua dan mencapai keberhasilan dan kemajuan akan lembaga pendidikan yang di pimpinnya.


copas : http://vibizmanagement.com/column/index/category/leadership_corp_culture/2386

Sabtu, 12 November 2011

JIWA KEPEMIMPINAN (Leadership)

1. Pengertian Jiwa Kepemimpinan :

               Jiwa kepemimpinan atau juga disebut dengan Leadership adalah suatu sifat yang dianugrahkan TUHAN kepada manusia , yang tidak semua manusia memiliki sifat ini, yaitu sifat seseorang yang dapat mengendalikan atau mengatur seseorang atau sekelompok manusia dalam sebuah organisasi , seperti sekolah ,tempat kerja , keluarga ,dll . Leadership adalah bagian dari softskill .Arti dari softskill itu sendiri adalah suatu kemampuan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (interpersonal skill) dan kemampuan dalam mengatur / mengendalikan dirinya sendiri .Softskill adalah pasangan dari Hardskill , jika seseorang mempunyai Hardskill yang tinggi , namun tidak di dukung oleh softskill yang bagus , maka orang tersebut tidak sukses dalam menjalani kehidupannya , begitu pula sebaliknya .Hardskill itu sendiri mempunyai arti sendiri , yaitu kemampuan menguasai ilmu pengetahuan teknologi dan keterampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya.Langkah-langkah penyusunan pengembangan softskills dapat dilakukan dengan berbagai cara:
  • Indetifikasi softskills, identifikasi softskills apa saja yang dibutuhkan oleh lulusan jurusan anda. untuk memperoleh ini, dapat dilakukan dengan meminta masukan dari alunmi ataupun industri pengguna lulusan.
    • Definisi softskills, setelah softskills yang dibutuhkan diidentifikasi, maka "pilihlah" softskills yang memang "paling" penting diadopsi dalam kurikulum jurusan anda.
      • Program pengembangan, (1) written curriculum, ini dilakukan dengan memasukansoftskills yang telah ditentukan ke dalam rancangan pembelajaran. dengan demikian penguasaan mahasiswa terhadap softskills tertentu harus dimasukkan dalam aspek penilaian mata kuliah tersebut. (2) hidden curriculum, ini dilakukan secara informal yaitu melalui interaksi dosen-mahasiswa. dosen sebagai panutan (role model). dapat juga dilakukan dengan menciptakan atmosfir akademik di lingkungan jurusan anda. (3) Co-curriculum, manfaatkan kegiatan seperti magang (internship), kerja praktik (KP), ataupun KKN (kuliah kerja nyata). (4) Extra-curriculum, libatkan unit kegiatan mahasiswa sebagai wadah untuk melatih softskills mahasiswa tersebut.
        • Evaluasi softskills, tentukan alat ukur yang sesuai untuk menilai softskills yang talah anda masukan ke dalam kurikulum jurusan anda. 
          2. Jenis - jenis Kekuasaan:
          Hubungan pemimpin dan kekuasaan adalah ibarat gula dengan manisnya, ibarat garam dengan asinnya. Dua-duanya tak terpisahkan. Kepemimpinan yang efektif (effective leadership) terealisasi pada saat seorang pemimpin dengan kekuasaannya mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Ketika kekuasaan ternyata bisa timbul tidak hanya dari satu sumber, kepemimpinan yang efektif bisa dianalogikan sebagai movement untuk memanfaatkan genesis (asal usul) kekuasaan, dan menerapkannya pada tempat yang tepat. 

          Refleksi dari kepemimpinan yang efektif, bertanggungjawab, dan terbalutnya hubungan sinergis antara pemimpin dengan yang dipimpin, adalah makna filosofis dari nasehat Rasulullah SAW: “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bertanggungjawab terhadap pimpinannya, seorang Amir (kepala negara) adalah pemimpin dan ia bertanggungjawab terhadap rakyatnya ….” (HR Bukhari & Muslim)
          Genesis kekuasaan, atau dalam terminologi lain: “jenis-jenis kekuasaan (types of power)” (Robbins-1991), atau  “basis-basis kekuasaan sosial (the bases of social power)” (French-1960), pada hakekatnya teridentifikasi dari lima hal: legitimate power, coercive power, reward power, expert power, dan referent power.

          • Legitimate Power (kekuasaan sah), yakni kekuasaan yang dimiliki seorang pemimpin sebagai hasil dari posisinya dalam suatu organisasi atau lembaga. Kekuasaan yang memberi otoritas atau wewenang (authority) kepada seorang pemimpin untuk memberi perintah, yang harus didengar dan dipatuhi oleh anak buahnya. Bisa berupa kekuasaan seorang jenderal terhadap para prajuritnya, seorang kepala sekolah terhadap guru-guru yang dipimpinnya, ataupun seorang pemimpin perusahaan terhadap karyawannya.
          • Coercive Power (kekuasaan paksa), yakni kekuasaan yang didasari karena kemampuan seorang pemimpin untuk memberi hukuman dan melakukan pengendalian. Yang dipimpin juga menyadari bahwa apabila dia tidak mematuhinya, akan ada efek negatif yang bisa timbul. Pemimpin yang bijak adalah yang bisa menggunakan kekuasaan ini dalam konotasi pendidikan dan arahan yang positif kepada anak buah. Bukan hanya karena rasa senang-tidak senang, ataupun faktor-faktor subyektif lainnya.
          • Reward Power (kekuasaan penghargaan), adalah kekuasaan untuk memberi keuntungan positif atau penghargaan kepada yang dipimpin. Tentu hal ini bisa terlaksana dalam konteks bahwa sang pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahannya. Penghargaan bisa berupa pemberian hak otonomi atas suatu wilayah yang berprestasi, promosi jabatan, uang, pekerjaan yang lebih menantang, dsb.
          • Expert Power (kekuasaan kepakaran), yakni kekuasaan yang berdasarkan karena kepakaran dan kemampuan seseorang dalam suatu bidang tertentu, sehingga menyebabkan sang bawahan patuh karena percaya bahwa pemimpin mempunyai pengalaman, pengetahuan dan kemahiran konseptual dan teknikal. Kekuasaan ini akan terus berjalan dalam kerangka sang pengikut memerlukan kepakarannya, dan akan hilang apabila sudah tidak memerlukannya. Kekuasaan kepakaran bisa terus eksis apabila ditunjang oleh referent power atau legitimate power.
          • Referent Power (kekuasaan rujukan) adalah kekuasaan yang timbul karena karisma, karakteristik individu, keteladanan atau kepribadian yang menarik. Logika sederhana dari jenis kekuasaan ini adalah, apabila saya mengagumi dan memuja anda, maka anda dapat berkuasa atas saya.
          Seorang pemimpin yang memiliki jiwa leadership adalah pemimpin yang dengan terampil mampu melakukan kombinasi dan improvisasi dalam menggunakan genesis kekuasaan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. Inilah yang disebut penulis dalam kalimat sebelumnya sebagai kepemimpinan yang efektif (effective leadership), dimana implementasinya adalah dengan “memanfaatkan genesis kekuasaan, dan menerapkannya pada tempat yang tepat”.
          3.Fungsi dan Tanggung Jawab Seorang Pemimpin
          Tujuan kepemimpinan adalah agar setiap kegiatan yang dilaksanakan dapat berjalan dengan lancar secara efektif dan efisien demi tujuan yang ingin dicapai,oleh karena itu kepemimpinan mempunyai beberapa fungsi yaitu :
          • Sebagai Pelaksana [ executive]
          Pemimpin tidak boleh memaksakan kehendaknya terhadap kelompok,tapi ia harus berusaha memenuhi kehendak dan kebutuhan kelompoknya.
          • Sebagai Perencana [ planer ]
          Pemimpin yang baik harus pandai membuat dan menyusun perencanaan,sehingga segala sesuatu yang diperbuatnya penuh perhitungan dan punya tujuan.
          • Sebagai seorang ahli [ expert ]
          Ia harus mempunyai keahlian,terutama keahlian yang berhubungan dengan tugas jabatan kepemimpinan yang dipegananya.
          • Mewakili kelompok dalam tindakannya keluar [ external group representative ]
          Ia harus menyadari baik buruk tindakannya diluar kelompok mencerminkan baik buruk kelompk yang dipimpinnya.
          • Mengawasi hubungan antar anggota kelompok [controller of internal relationship.
          Menjaga jangan sampai terjadi perselisihan dan selalu menjaga hubungan anggota agar tetap harmonis.
          • Bertindak sebagai wasit dan penengah [arbitrator and mediator ]
          Dalam menyelesaikan perselisihan pemimpin harus tegas dan tidak boleh pilih kasih.
          • Merupakan lambang dari kelompok [ symbol of the group ]
          Baik atau buruknya kelompok tercermin pada dirinya karena dia adalah lambang kelompok.
          • Sebagai pencipta atau memiliki cita-cita [ Idiologist ]
          Pemimpinharus mempunyai konsepsi yang baik dan realistis,sehingga dalam menjalankan kepemimpinan mempunyai garis yang tegas menuju arah yang di cita-citakan.
          • Bertindak sebagai seorang ayah [ father figure ]
          Tindakan pemimpin terhadap bawahan hendaknya dicerminkan seperti tindakan ayah kepada anak-anaknya.
          • Merupakan bagian dari kelompok [ exemplar ]
          Pemimpin bukanlah orang yang tinggi dari kelompoknya tapi dia merupakan bagian dari kelompoknya,segala tindakannya harus demi kemajuan kelompknya.
          • Pemegang tanggung jawab para anggota kelomponya [ surrogate for individual responsibility ]
          Jika kita teliti semua tugas pemimpin di atas,tepat kiranya apa yang dikemukakan oleh bapak pendidikan kita Ki Hadjar Dewantara,pemimpin yang baik harus menjalankan perannya sebagai berikut :
          1. ing ngarso asung tulodo
          2. ing madyo mangun karso dan
          3. ing { tut } wuri handayani.
          Menurut Hick ada delapan rangkaian peranan seorang pemimpin [ leader ship ] yaitu adil,memberikan sugesti,mendukung tercapainya tujuan,sebagai katalisator,menciptakan rasa aman,sebagai wakil organisasi,sumber inspirasi dan bersedia menghargai.
          4.Tipe – Tipe Kepemimpinan
          Karena judul makalah ini adalah Kepemimpinan Kunci Keberhasilan Kepala Sekolah,maka dalam pembahasan tentang kepemimpinan lebih [penullis arahkan kepada kepemimpinan dalam pendidikan.Adapun tipe-tipe kepemimpinan dalam pendidikan adalah :
          • 1. Otokratis
          • 2. Laises Faire
          • 3. Demokratis
                             
          1.Kepemimpinan yang Otokratis
          Dalam kepemimpinan yang otokratis,pemimpin bertindak sebagai dictator terhadap anggota kelompoknya,baginya memimpin adalah menggerakkan dan memaksa kelompok.Penafsiran sebagai pemimpin tidak lain adalah menunjukkan dan memberi perintah,kewajiban bawahan adalah mengikuti dan menjalankan tidak boleh membantah.
          2.Kepemimpinan yang Laises Faire
          Dalam tipe ini,sebenarnya pemimoin tidak memberikan pimpinan,tipe ini diartikan sebagai membiarkan orang – orang yang dipimpinnya berbuat sekehendaknya,pemimpin tidak memberikan kontrol dan koreksi terhadap pekerjaan yang dilakukan bawahannya.Dalam tipe kepemimpinan ini biasanya tidak ada organisasi,segala kegiatan dilakukan tanpa rencana dan tanpa pengawasan dan pimpinan.

          3.Kepemimpinan Yang Demokrasi
          Pemimpin yang demokratis,menafsirkan kepemimpinannya bukan sebagai dictator,melainkan sebagai pemimpin di tengah –tengah anggota kelompoknya,ia selalu berusaha menstimulis anggota-anggotanya untuk bekerja secara kooperatif untuk mencapai tujuan bersama,dalam melaksanakan tugasnya,ia mau menerima saran dan kritik dari bawahannya,pemimpin yang demokratis senantiasa berusaha memupuk rasa kekeluargaan dan persatuan dengan bawahannya.

          5.Contoh Kasus
                            Peranan Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Pendidikan
          Di Indonesia kepala sekolah yang memimpin suatu sekolah negeri diangkat oleh departemen yang membawahi sekolah itu setelah mempertimbangkan usul-usul dari instansi-instansi setempat,sedangkan pengangkatan kepala sekolah swasta dilakukan oleh dewan khusus dalam bidang pendidikan dari lembaga yang mendirikan sekolah itu.
          Funsi utama kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan adalah mempersiapkan situasi belajar dan mengajar yang baik.Di dalam melaksanakan fungsinya kepala sekolah harus benar-benar dapat memberikan pimpinan,ini berari kepala sekolah harus dapat mengadakan,mengatur dan memberikan fasilitas pendidikan supaya para guru dan siswa benar-benar berada dalam situasi belajar yang menyenangkan,ia harus mampu menyusun program –program yang dapat yang dapat membangkitkan aktivitas siswa dan guru.
          Selanjutnya sebagai pemimpin pendidikan kepala sekolah harus bertanggung jawab terhadap kemajuan dan kesejahteraan para guru.Kepala sekolah juga harus memberikan penilaian terhadap guru-guru sehingga dengan demikian nanti ia dapat memberikan bantuan kepada mereka demi perbaikan etos kerjanya di masa yang akan datang.
          Untuk menjalankan itu semua kepala sekolah dituntut mempunyai jiwa kepemimpinan yang tinggi,seperti yang telah penulis uraikan pada bagian terdahulu,bahwa kepemimpinan adalah kemampuan yang di miliki seseorang untuk mempengaruhi,menggerakkan serta memotivasi orang untuk bekerjasama demi mencapai suatu tujuan.
          6.Kesimpulan 
          Berdasarkan keseluruhan uraian didalam makalah ini maka penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan,yaitu :

          • Berhasil atau tidaknya seseorang dalam menjalankan tugasnya,sangat dipengaruhi oleh jiwa kepemimpinannya,sebab dengan jiwa kepemimpinannya itulah tujuan  yang dipimpinnya akan tercapai,
          • Kepemimpinan kepala sekolah adalah salah satu perwujudan kepemimpinan nasional,yaitu kepemimpinan pancasila,yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan menciptakan sumber dayan mannusia yang handal.
          • Contoh kasus diatas membuktikan bahwa , softskill sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan . 
          • Seorang pemimpin yang memiliki jiwa leadership adalah pemimpin yang dengan terampil mampu melakukan kombinasi dan improvisasi dalam menggunakan genesis kekuasaan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. Inilah yang disebut penulis dalam kalimat sebelumnya sebagai kepemimpinan yang efektif (effective leadership), dimana implementasinya adalah dengan “memanfaatkan genesis kekuasaan, dan menerapkannya pada tempat yang tepat”.